Semangat membangun generasi muda Katolik yang tangguh dalam iman menjadi benang merah dalam Temu Ketua Komisi Kepemudaan (Komkep) Regio Kalimantan yang berlangsung di Keuskupan Tanjung Selor. Pertemuan ini dihadiri para ketua Komkep dari berbagai keuskupan di Kalimantan (Keuskupan Sanggau tidak hadir), termasuk utusan dari Keuskupan Agung Samarinda.

Mengusung tema “Kaum Muda Beriman Tangguh”, pertemuan ini menjadi ruang refleksi sekaligus evaluasi arah pastoral kaum muda di wilayah Kalimantan, terutama dalam menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.

Kegiatan diawali dengan perayaan Ekaristi pembuka yang dipimpin oleh Mgr. Paulinus Yan Ola, MSF, Uskup Tanjung Selor. Dalam homilinya, ditegaskan bahwa pendamping orang muda dipanggil untuk meneladan Kristus sebagai “psikolog sejati”: hadir sebagai pendengar yang setia, membuka ruang aman bagi kaum muda untuk berbagi pergulatan hidup, serta menuntun mereka menemukan terang dalam setiap dinamika hidup. Pendampingan yang otentik, ditegaskan, hanya mungkin terjadi bila para pendamping terlebih dahulu membangun keintiman dengan Kristus melalui doa, keheningan, dan proses discermen.

Pada hari pertama para ketua komkep melaporkan segala kegiatan dan melakukan evaluasi yang jujur atas dinamika pelayanan OMK di masing-masing keuskupan. Dalam diskusi terungkap bahwa tantangan utama masih berkisar pada aspek kelembagaan, formasi pendamping, serta kesinambungan program. Kebutuhan akan struktur organisasi yang jelas, kaderisasi yang berkelanjutan, dan dokumentasi yang rapi menjadi perhatian bersama.

Hari kedua diisi dengan pendalaman materi dan tanggapan dari Komisi Kepemudaan KWI yang menekankan pentingnya keberlanjutan dalam pelayanan. Kategori usia Orang Muda Katolik yang kini berada pada rentang 16–35 tahun menjadi dasar dalam merancang pembinaan yang berjenjang. Selain itu, ditekankan pula pentingnya pemetaan profil kaum muda secara lebih komprehensif, baik dari sisi demografis maupun psikografis, agar program pendampingan semakin tepat sasaran.

Dalam konteks formasi, para pendamping diharapkan terus meningkatkan kapasitas diri, tidak hanya dalam spiritualitas tetapi juga dalam manajemen pelayanan. Regenerasi menjadi kunci agar pelayanan tidak bergantung pada figur tertentu, melainkan bertumbuh sebagai gerakan bersama.

Pertemuan ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pendampingan kaum muda, termasuk dengan keluarga, tenaga profesional, serta berbagai komunitas. Kaum muda tidak lagi dipandang hanya sebagai peserta kegiatan paroki, tetapi sebagai pribadi yang hadir dan berkarya di berbagai bidang kehidupan.

Sebagai tindak lanjut konkret, disepakati beberapa program bersama tahun 2026, di antaranya penyelenggaraan webinar tematik tentang lingkungan hidup dan literasi keuangan, serta persiapan menuju Indonesian Youth Day (IYD) 2027 di Manokwari–Sorong. Pertemuan ini menegaskan bahwa di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan, harapan akan lahirnya kaum muda yang beriman tangguh tetap menyala. Seperti diungkapkan dalam refleksi bersama, setiap orang muda adalah “tanah yang kudus”, tempat benih-benih kehidupan ditanam dan dipelihara dengan penuh harapan.

Dokumentasi:


Bagikan

Berita Lainnya